Rabu, 30 Oktober 2013

makalah fiqih syirQoh


SYIRKAH / PERKONGSIAN
 MAKALAH

 Untuk memenuhi tugas mata kuliah 
‘’FIQIH MUAMALAH’’

 Dosen pengampuh : Drs. IBNU JAZARI Z M.Hi





 Di susun oleh : AHMAD SAHAL MAHFUD 
                  ALFI ANISA AURICHA 

UNIVERSITAS AGAMA ISLAM FAKULTAS AGAMA ISLAM
 JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM 
Oktober 2013 


 BAB I
 PENDAHULUAN 


 1.1 LATAR BELAKANG
Dalam upaya memenuhi kebutuhan kehidupan sehari-hari, manusia tidak akan terlepas dari hubungan terhadap sesama manusia. Tanpa hubungan dengan orang lain, tidak mungkin berbagai kebutuhan hidup dapat terpenuhi. Terkait dengan hal ini maka perlu diciptakan suasana yang baik terhadap sesama manusia. Hal ini dapat dilakukan dengan cara mengadakan akad syirkah dengan pihak lain. Di sini dipaparkan berbagai macam definisi dan teori-teori tentang Syirkah. Syirkah dari segi bidang usahanya ada yang hanya menjalankan satu bidang usaha saja, misalnya bidang konsumsi, bidang kredit, bidang produksi. Ini di sebut koperasi bidang usaha tunggal (single purpose). Ada pula koperasi yang melaksanakan usahanya dalam berbagai bidang, disebut koperasi bidang usaha (multi purpose), misalnya pembelian dan penjualan. Syirkah sesungguhnya adalah kerja sama, gotong royong dan demokrasi ekonomi menuju kesejahteraan umum.


Tujuan kami dalam penyusunan makalah ini adalah:
 1. Mengetahui Definisi, Dasar Hukum dan Macam-macam Syirkah. 2. Mengetahui Syarat-syarat dan Hikmah Syirkah. 3. Memenuhi tugas dari Dosen Pengampu mata kuliah Fiqih Muamalah.



BAB II
PEMBAHASAN


 PEMBAHASAN 1.2
 Pengertian Syirkah Kata syirkah dalam bahasa Arab berasal dari kata syarika (fi’il mâdhi), yasyraku (fi’il mudhâri’), syarikan/syirkatan/syarikatan (mashdar/kata dasar); artinya menjadi sekutu atau serikat. Secara etimologi berarti: percampuran, yakni bercampurnya salah satu dari dua harta dengan harta lainnya, tanpa dapat dibedakan antara keduanya. Secara terminologi, antara lain:

1. Menurut Malikiyah: Perkongsian adalah izin untuk mendayagunakan (tasharruf) harta yang dimiliki dua orang secara bersama-sama oleh keduanya, yakni keduanya saling mengizinkan kepada salah satu untuk mendayagunakan harta milik keduanya, namun masing-masing memiliki hak untuk bertasharruf.

2. Menurut Hanabilah: Perhimpunan adalah hak (kewenangan) atau pengolahan harta (tasharruf).

3. Menurut Syafi’iyah: Ketetapan hak pada sesuatu yang dimiliki dua orang atau lebih dengan cara masyhur. 4. Menurut Hanafiyah: Ungkapan tentang adanya transaksi antara dua orang yang bersekutu pada pokok harta dan keuntungan.

 1.3 Landasan Syirkah 

1. Al-Qur’an: Artinya: mereka bersekutu dalam yang sepertiga. )QS. an-Nisa 4:12 2. Sunnah Nabi: عن ابى هريرة رفعه الى النبي ص.م. قال ان الله عز وجل يقول انا ثالث الشر يكين مالم يخن احدهما صا حبه فاء ذا خانه خرجت من بينها (رواه ابو داود والحاكم وصححه اسناده) Artinya: Dari abu hurairah yang dirafa’kan kepada Nabi, bahwa Nabi SAW bersabda, sesungguhnya Allah SWT berfirman. Aku adalah yang ketiga pada dua orang bersekutu selama salah satu seseorang dari keduanya tidak menghianati temannya, aku akan keluar dari persekutuan tersebut. Apabila salah seorang mengkhianatinya. (H.R. Abu Daud dari Abu Hurairah : 2936) 3. Ijma’: Ummat Islam sepakat bahwa Syirkah dibolehkan. Hanya saja mereka berpendapat tentang jenisnya. Syirkah hukumnya jâ’iz (mubah), berdasarkan dalil Hadis Nabi SAW ,berupa taqrîr (pengakuan) beliau terhadap syirkah. Pada saat beliau diutus sebagai nabi, orang-orang pada saat itu telah bermuamalah dengan cara ber-syirkah dan Nabi Shalallahu alaihi wasalam membenarkannya.

 1.4 Pembagian Perkongsian 

1. Perkongsian Amlak Maksudnya, dua orang atau lebih memiliki barang tanpa adanya akad. -Perkongsian ini dibagi dua:

1. Perkongsian sukarela (ikhtiar), adalah perkongsian yang muncul karena adanya kontrak dari dua orang saling bersekutu.

2. Perkongsian paksaan (ijbar), adalah perkongsian yang ditetapkan kepada dua orang atau lebih yang bukan didasarkan atas perbuatan keduanya.

2. Perkongsian Uqud Perkongsian ini merupakan bentuk transaksi yang terbagi antara dua orang atau lebih untuk bersekutu dalam harta dan keuntungannya. Menurut para ulama ushul fiqh, Syirkah Uqud dibagi kedalam beberapa kategori:

1. Syirkah al-‘Inan, yaitu: perserikatan dalam modal dalam suatu perdagangan yang dilakukan dua orang atau lebih dan keuntungannya dibagi bersama. Para ulama ushul fiqh sepakat bahwa perserikatan seperti ini dibolehkan.

 2. Syirkah al-Mufawadhah, yaitu: perserikatan dua orang atau lebih pada suatu objek dengan syarat masing-masing pihak memasukkan modal yang sama jumlahnya, serta melakukan tindakan hukum yang sama sehingga masing-masing pihak dapat bertindak hukum atas nama orang-orang yang berserikat. Menurut ulama Hanafitah dan Zaidiyah, tidak dibolehkan modal salah satu pihak lebih besar dari pihak yang lain. Dan keuntungan untuk satu pihak lebih besar dari keuntungan yang diterima mitra serikatnya.

 3. Syirkah Al-Wujuh, yaitu: serikat yang dilakukan dua orang atau lebih yang tidak punya modal sama sekali dan mereka melakukan suatu pembelian dengan kredit serta menjualnya dengan harga tunai. Sedangkan keuntungan yang diperoleh dibagi bersama. Menurut ulama Hanafiyah, Hanabilah, dan Zaidiyah, perserikatan seperti iniboleh hukumnya karena dalam perserikatan ini masing-masing pihak bertindak sebagai wakil dari pihak yang lain sehingga pihak lainpun terikat pada transaksi yang telah dilakukan mitra serikatnya. Akan tetapi menurut ulama Malikiyah, Syafiiyah, Dzahiriyah, dan Syi’ah Imamiyah, perserikatan seperti ini tidak dibolehkan, alasannya objek perserikatan itu adalah modal dan kerja. Sedangkan dalam perserikatan al-Wujuh tidak demikian. Karena baik modal maupun kerja dalam perserikatan ini tidak jelas,

4. Syirkah al-Abdan, yaitu: perserikatan yang dilaksanakan oleh dua orang atau pihak menerima suatu pekerjaan seperti laundry dan tukang jahit, hasil yang diterima dari pekerjaan itu dibagi bersama sesuai dengan kesepakatan mereka berdua. Menurut ulama Malikiyah, Hanafiyah, Hanabilah dan Zaidiyah, hukumnya boleh karena tujuan utama perserikatan ini adalah mencari keuntungan dengan modal bekerjasama. Menurut ulama Syafiiyah, Syi’ah Imamiyah, Zufar Ibnu Zuhail, perserikatan ini hukumnya tidak sah karena yang menjadi objek perserikatan adalah harta atau modal bukan kerja.

5. Syirkah al-Mudharabah, yaitu: persetujuan antara pemilik modal dengan seorang pekerja untuk mengelola uang dari pemilik modal dalam perdagangan tertentu yang keuntungannya dibagi sesuai dengan kesepakatan bersama, sedangkan kerugian diderita pemilik modal saja. Jumhur ulama (Hanafiyah, Malikiyah, Syafiiyah, Zahiriyah, dan Syiah Imamiyah) tidak memasukkan transaksi mudharobah dalam salah satu bentuk perserikatan karena menurut mereka, merupakan akad tersendiri dalam bentuk kerjasama lain dan tidak dinamakan dengan perserikatan. D. Rukun dan Syarat Mengenai rukun syirkah diperselisihkan oleh para ulama, menurut ulama Hanafiyah ada dua: Ijab dan Qabul. Adapun yang lain seperti dua orang atau pihak yang berakad dan harta berada di luar pembahasan akad seperti dahulu dalam akad jual beli.

[8] Rukun syirkah menurut jumhur ulama’yang pokok ada 3 (tiga) yaitu: • Akad (ijab-kabul), disebut juga shighat; • Dua pihak yang berakad (‘âqidâni), syaratnya harus memiliki kecakapan (ahliyah) melakukan tasharruf (pengelolaan harta); • Obyek akad (mahal), disebut juga ma’qûd ‘alayhi, yang mencakup pekerjaan (amal) dan/atau modal (mâl) (Al-Jaziri, 1996: 69; Al-Khayyath, 1982: 76; 1989: 13). Sedangkan menurut ulama’ Mazhab Hanafi rukun syirkah hanya ada dua, yaitu ijab dan qabul. Sedangkan orang yang berakad dan objeknya bukan termasuk rukun, tetapi syarat. Dijelaskan pula oleh Abd al-Rahman al-Jaziri bahwa rukun Syirkah adalah dua orang (pihak) yang berserikat, shighat dan objek akad syirkah baik harta maupun kerja. Syarat yang berhubungan dengan syirkah menurut Hanafiyah dibagi menjadi 4: 1. Sesuatu yang bertalian dengan semua bentuk Syirkah baik dengan harta maupun dengan yang lainnya. Dalam hal ini terbagi dua syarat, yang berkenaan dengan benda dan yang berkenaan dengan keuntungan.

2. Sesuatu yang bertalian dengan Syirkah Mal dalam hal ini terbagi dalam dua hal yang harus dipenuhi yaitu: a) bahwa modal yang dijadikan objek alat Syirkah adalah dari alat pembayaran seperti Rupiah.

 b) yang dijadikan modal ada ketika akad Syirkah dilakukan, baik jumlahnya sama ataupun beda. 3. Sesuatu yang bertalian dengan syarikat muwafadhah, bahwa muwafadhah disyarikatkan: a) modal, dalam Syirkah muwafadhah harus sama,

 b) bagi yang bersyirkah, ahli untuk kalafah,

c) bagi yang dijadikan objek akad disyaratkan syirkah umum. 4. Adapun syarat yang bertalian dengan syirkah ‘inan sama dengan syarat-syarat Syirkah Muwafadhah. Menurut ulama Malikiyah, syarat-syarat yang bertalian dengan orang yang melakukan akad ialah merdeka, baligh, dan pintar (Rusyd). Menurut Syafi’iyah, bahwa Syirkah yang sah hukumnya hanyalah Syirkah ‘Inan, sedangkan Syirkah yang lainnya batal. E. Berakhirnya Syirkah Syirkah akan berakhir apabila terjadi hal-hal berikut :
1. Salah satu pihak membatalkan meskipun tanpa persetujuan pihak lainnya sebab syirkah adalah akad yang terjadi atas dasar rela sama rela dari kedua belah pihak yang tidak ada kemestian untuk dilaksanakan apabila salah satu pihak tidak menginginkannya lagi. Hal ini menunjukan pencabutan kerelaan syirkah oleh satu pihak.
 2. Salah satu pihak kehilangan kecakapan untuk bertasharruf (keahlian mengelolah harta), baik karena gila atau alasan lainnya
. 3. Salah satu pihak meninggal dunia, apabila anggota syirkah lebih dari dua orang, yang batal hanyalah yang meninggal saja. Syirkah berjalan terus pada anggota-anggota yang masih hidup. Apabila ahli waris yang meninggal menghendaki turut serta dalam syirkah tersebut, maka dilakukan perjanjian baru bagi ahli waris yang bersangkutan. 4. Salah satu pihak ditaruh dibawah pengampuan, baik karena boros yang terjadi pada waktu perjanjian syirkah tengah berjalan maupun karena sebab yang lainnya.
 5. Karena salah satu pihak bangkrut yang berakibat tidak berkuasa lagi atas harta yang menjadi saham syirkah. Pendapat ini dikemukakan oleh Maliki, Syafi’i dan Hambali. Sedangkan Hanafi berpendapat bahwa keadaan bangkrut ini tidak membatalkan perjanjian yang dilakukan oleh yang bersangkutan.
 6. Modal para anggota syirkah lenyap sebelum dibelanjakan atas nama syirkah. Bila modal tersebut lenyap sebelum terjadi pencampuran harta hingga tidak bisa dipisah-pisahkan lagi, yang menanggung resiko adalah para pemilik-pemiliknya sendiri. Apabila harta lenyap setelah terjadi pencampuran yang tidak bisa dipisah-pisahkan lagi, menjadi resiko bersama. Apabila masih ada sisa harta, syirkah masih terus berlangsung dengan kekayaan yang masih ada. F. Hikmah Syirkah Hikmah yang diperoleh dari praktek syirkah adalah: a. Menggalang kerjasama untuk saling menguntungkan antara pihak-pihak yang ber-syirkah
; b. Membantu meluaskan ruang rezeki karena tidak merugikan secara ekonomi.
 G. Contoh Praktek Syirkah A datang ke B dan menyerahkan modal uang sebesar Rp.1000.000,00 untuk dijadikan modal kerja kepada seseorang (untuk berdagang). Seandainya pengelola uang tersebut memperoleh keuntungan dari usaha tadi maka keuntungan itu dibagi sesuai dengan kesepakatan antara kedua belah pihak, misalnya 40% keuntungan untuk pemodal dan 60% untuk pengelola atau dibagi secara sama, yang penting ada kesepakatan antara kedua belah pihak dengan tidak saling merugikan, melainkan saling menguntungkan.


BAB III 
KESIMPULAN 

 Dari pengertian-pengertian diatas dapat ditarik kesimpulan, bahwa syirkah adalah persekutuan dalam urusan harta oleh dua orang atau lebih yang melakukan akad untuk urusan harta, yang modalnya bisa dibagi dua atau berdasarkan keputusan bersama. Biasanya syirkah dilakukan di perusahaan, yang mana dari mereka ada yang mempunyai saham dan ada yang menjalankan saham. Syirkah akan berlaku jika masing-masing pihak berakad untuk melakukan syikrah itu. Syarat-syarat syirkah pun harus terpenuhi dengan jelas, agar syirkah tersebut sah. Syirkah adalah transaksi atau akad antara dua orang atau lebih, dimana mereka saling bersepakat untuk melakukan kerja yang bersifat finansial dan mendatang keuntungan (profit). Dasar hukum syirkah adalah surat An Nisa’ ayat 12 dan surat As Shad ayat 24 dan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Huroiroh. Hukum syirkah mubah/ boleh dilakukan antara sesama muslim atau antara orang islam dengan orang kafir dzimmi. Rukun syirkah ada tiga: (1) sighat/ akad (ijab dan qabul), (2) pihak yang berakad baik membawa modal (syariku al-mal) ataupun membawa keahlian dan tenaga (syariku al-badn), dan (3) usaha. Mengenai Syarat-syarat syirkah, dijelaskan oleh idris Ahmad berikut ini; 1). Mengeluarkan kata-kata yang menunjukkan izin masing-masing anggota serikat kepada pihak yang akan mengendalikan harta itu; 2). Anggota serikat itu saling mempercayai, sebab masing-masing mereka adalah wakil yang lainnya; 3). Mencampurkan harta sehingga tidak dapat dibedakan hak masing-masing, baik berupa mata uang maupun bentuk yang lainya. Macam-macam syirkah ada lima, yaitu: 1). Syirkah Inan; 2). Syirkah Abdan; 3). Syirkah Wujuh; 4). Syirkah Muwafadhoh; 5). Syirkah Mudhorobah. Syirkah dapat berbentuk syirkah hak milik (syirkah amlak) seperti syirkah terhadap harta warisan atau syarikah transaksi (syirkah uqud) yang mengembangkan hak milik seseorang. Syirkah uqud dibagi menjadi lima seperti telah dijelaskan diatas. Bahwa syirkah dengan koperasi itu berbeda, baik dari segi keanggotaan, prinsip dan operasionalnya. Ada beberapa hal yang dapat membatalkan Syikah, diantaranya adalah: 1). Salah satu pihak membatalkan meskipun tanpa persetujuan pihak lainnya; 2). Salah satu pihak kehilangan kecakapan untuk bertasharruf (keahlian mengelolah harta), baik karena gila atau alasan lainnya; 3). Salah satu pihak meninggal dunia, apabila anggota syirkah lebih dari dua orang, yang batal hanyalah yang meninggal saja; 4). Salah satu pihak ditaruh dibawah pengampuan; 5). Karena salah satu pihak bangkrut yang berakibat tidak berkuasa lagi atas harta yang menjadi saham syirkah; 6). Modal para anggota syirkah lenyap sebelum dibelanjakan atas nama syirkah.


 REFERENSI :
Prof. DR. H. Rachmat Syafei, MA. (FIQIH MUAMALAH) HTTP/Al-Asqalani, Hafid ibnu Hajar. 2002. Bulughul Maram. Dar Al-Kutub Al-Islamiah. Kalibata. HTTP/Ayyub, Hasan. 2006. Al-Muamalah Al-Maliah. Dar Al-Salam. Qahirah. A. Mas’adi, Ghufron. 2002. Fiqh Muamalah. Rajawali Press. Jakarta. Al-Zahili, Wahab. 2002. Mu’amalah Al-Maliah Al-Ma’ashir. Dar Al-Fiqr. Damaskus. Hasan, M. Ali.2004. Berbagai Macam Transaksi Dalam Islam. Raja Grafindo Persada. Jakarta. Muhammad bin Ahmad, Qadi Abi Walid. 2003. Bidayatul Mujtahid. Maktabah Al-Syuruk Al-Dauliah. Qahirah. Suhendi, Hendi. 2008. Fiqh Muamalah. Raja grafindo persada. Jakarta. .

Minggu, 18 April 2010

Malam Lailatul Qadr


Andai aku bertemu malam lailatul qadr
maka akan kupanjatkan doa pengharapan ini pada Nya
wahai yang maha rahman dan rahim….

wahai hakim yang adil
wahai yang maha indah
wahai maha raja yang kekuasaan nya tiada sirnah
wahai yang ada dan tak akan pernah berakhir
ku mohon pada mu dengan pengharapan yang paling berharap…
bagai nelayan yang dihantam gelombang badai dan hampir tengelam..
oh Tuhan ku………
dengan kebesaran dan keadilan Mu
ku mohon jangan musnahkan umat manusia ini…..
dengan wabah penyakit,kelaparan,bencana alam dan perang ideologi
yang di ciptakan oleh mahluk durjana.
oh Tuhan ku…. bukalah topeng-topeng para penjahat yang bersenbunyi dipakaian-pakaian agama dan nasionalisme…
musnahkanlah rekayasa mereka yang membuat umat manusia saling membenci dan saling menyerang….
wahai yang maha Esa…
esakanlah bumi ini dengan cinta…
cinta yang tidak mengenal dendam,permusuhan,segala
perbedaan dan batas-batas wilayah….
cinta yang membuat bumi menjadi satu negara dunia,hingga damai dan indah untuk di tempati……
dengan cinta Mu kumohon musnahkan hasrat menguasai dan penindasan sesama umat manusia..
siapa saja yang bermaksud melemahkan,memiskinkan,membodohi,menjajah dan melenyapkan sebuah ras,bangsa dan agama dari keyakin umat manusia maka gagalkanlah agresinya….
wahai yang mengerakan hati manusia
gerakan hati pemimpin dan mantan pemimpin kami untuk selalu menjadi yang terbaik dan benar dalam memimpin umat
berikan keberanian untuk tobat dan mengembalikan harta kekayaan rakyat.
kupanjatkan doa dan pengharapan ku
andai ini adalah ramadhan terakhirku
maka ampuni segala dosa dan khilaf ku
dan terimalah amal ibadahku
Wahai yang maha pengampun dan maha penyayang.
Amiin……………..